Senin, 27 Juli 2021
Aku terbaring di atas tempat tidur kamarku dengan posisi kedua telapak tangan yang tertumpuk di bawah kepala sebagai tumpuan. Hari sudah malam, suasana di sekitar sudah mulai sepi, tapi tidak dengan pikiranku. Ya, sama seperti remaja seusia ku pada umumnya, setiap malam aku selalu melakukan ritual wajib sebelum tidur, yaitu overthinking.
Malam itu, aku lagi-lagi dibuat tak bisa tidur karena seseorang. Seseorang yang pernah mengisi ruang di hatiku. Sejak kehadirannya, hidupku yang dulu hanya mengenal hitam, putih, dan abu-abu jadi mengenal warna-warninya dunia. Dia memang tak selalu ada di samping ku, tapi dia selalu ada di dalam kepala dan hatiku. Dialah pendengar yang baik, di sepanjang kisah hidupku yang buruk.
Tapi kini semuanya telah berubah, dia yang asik kini telah menjadi asing. Dan malam ini akan kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah cerita yang mengajarkanku bahwa ‘kisah singkat pun dapat menghasilkan luka yang begitu hebat’.
Senin, 12 April 2021
Siang itu aku sedang berada di perpustakaan sekolah untuk mengembalikan buku yang ku pinjam. Suasana perpustakaan sangat sepi, bahkan bukan hanya perpustakaan, tapi satu sekolahan juga sepi. Wajar saja, waktu itu masih era pandemi, sekolah menerapkan sistim belajar Online, sedangkan untuk kegiatan lain masih boleh dilakukan di sekolah dengan mematuhi protokol kesehatan.
Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 14:18 WIB, artinya sudah hampir setengah jam aku berada di perpustakaan sekolah. Sebenarnya urusanku ke sekolah hanya untuk mengembalikan buku, tapi karena di sekolah menyediakan WIFI gratis, jadi aku tidak langsung pulang dan lebih memilih untuk menonton video di aplikasi U-tube. Hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa siswa yang ada di situ.
Tak lama datanglah seorang wanita yang langsung mengambil duduk di samping ku. Aku sedikit menoleh untuk memastikan siapa orang yang sedang duduk di samping ku saat ini, dan aku mengenalinya sebagai Yesha. Dia satu SMP denganku, tapi aku tidak terlalu mengenalnya waktu itu, aku mulai mengenalnya saat SMA, lebih tepatnya saat kami menjadi pengurus OSIS dan ditempatkan dalam satu divisi yang sama.
“lagi disini juga? “ tanya Yesha memulai pembicaraan.
“iya “ jawabku sambil melepas earphones yang aku kenakan.
“ngapain kesini? “
“balikin buku, kamu sendiri? “
“Iya, aku masih sendiri”
"maksudnya kamu sendiri ngapain kesini? “ kataku mengulang pertanyaan dengan kalimat yang lebih jelas.
Yesha tertawa kecil “iya aku ngerti kok, aku habis ngumpulin tugas terus kesini buat wifian”
Aku mengangguk paham. Memang sinyal WIFI paling kuat di sekolahku ada di perpustakaan, jadi tidak heran jika siswa-siswi sering ke situ hanya untuk WIFI-an, bukan untuk membaca buku.
“kamu katanya lolos SPAN-PTKIN di Karawang ya? “ Yesha kembali bertanya.
"iya"
“MasyaAllah, alhamdulillah “ ucapnya.
“iya alhamdulillah “
"pilihan pertama atau kedua di Karawang tuh? “ tanyanya lagi.
"pertama"
“alhamdulillah banget “ katanya lagi “yang Istiqomah ya kalo udah jadi guru “
"insyaallah" balasku.
"Masya Allah, amin"
"amin"
Setelah itu, kami mulai membicarakan hal lain. Dia sempat bilang kalau dia suka cerita-cerita ku yang aku bagikan di aplikasi novel Online bernama voltped. Setelah cukup lama berbincang-bincang, aku memutuskan untuk pulang lebih dulu.
Saat itu aku merasa senang karena ada juga yang bangga dengan pencapaian kecilku itu. Padahal teman-teman ku yang lain terlihat biasa-biasa saja saat tau kalau aku lolos di PTKIN. Mereka menganggap kalau masuk PTKIN adalah hal yang mudah. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Minggu, 23 Mei 2021
Waktu itu aku sedang pergi ke rumah teman SMP ku, yaitu Satria. Dulu kami sangat akrab, sampai karena suatu hal membuat kami jadi hilang kontak. Terlebih lagi Satria yang memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke pusat kota. Namun, sejak kami masuk ke bimbel SBMPTN yang sama, hubungan kami kembali akrab.
Saat itu aku dan Satria baru saja membeli makanan di ‘ayam roket’ yang tempatnya tidak jauh dari rumah Satria, sehingga kami ke tempat itu sambil jalan kaki. Saat di perjalanan pulang, Satria mulai menceritakan pengalamannya ketika mengikuti ujian SBMPTN. Dia bercerita kalau saat ujian dia merasa ngantuk, amnesia dengan materi, waktu berjalan lebih cepat, dan sebagainya.
Di tengah perjalanan ada seorang wanita yang sedang berjalan dari arah berlawanan. Aku mengenal wanita itu, dia adalah mbak Diana, seniorku di PMR waktu SMP. Mbak Diana tersenyum ketika melihatku berusaha menyapa. Aku ikut tersenyum untuk membalas sapaannya. Sedangkan Satria terlihat penasaran dengan apa yang baru saja dilihatnya.
“siapa? “ tanya Satria.
“mbak Diana” jawabku.
“mbak Diana? “ Satria kembali bertanya dengan mengernyitkan dahinya, tanda bahwa dia tidak mengenal mbak Diana.
“senior PMR waktu SMP “
“oh” balas Satria singkat. Setelahnya Satria terlihat seperti sedang berpikir, sampai akhirnya dia kembali bersuara “dulu mbak Diana suka sama gue tau”
“masa? “ tanyaku tak percaya.
"iya, jadi waktu gue kelas tujuh gue pernah duduk bareng mbak Diana di pendopo sekolah, terus mbak Diana duduknya ngedeket sambil nanya ‘aku cocok gak sama Satria? ‘ ke temennya “
Aku tak membalas ucapan Satria karena aku tau dia sedang berbohong. Logika saja, ketika pertama kali melihat mbak Diana Satria terlihat asing melihat wajah mbak Diana, dan secara tiba-tiba Satria berkata seolah dia pernah mengenal mbak Diana sebelumnya. Aku mulai menggeleng kecil, seharusnya Satria bisa lebih baik lagi ketika berbohong, agar ketika dia masuk neraka jadi tidak sia-sia karena berbohong tapi kebohongannya terlihat jelas.
Sesampainya di rumah Satria kami langsung memakan friend chicken yang kami beli di ‘ayam roket' tadi. Selesai makan aku membuka ponselku untuk melihat jam, namun aku malah mendapati sebuah pesan yang dikirimkan oleh Yesha. Aku pun langsung membukanya.
Yesha mengirimkan sebuah foto brosur lomba stand up comedy yang diadakan mulai tanggal 28 Mei 2021 di cafe yang baru buka yaitu ‘moonbuck coffee’. Yesha belum?” pada foto tersebut. juga menyertakan pesan “udah tau belum?” pada foto tersebut.
Aku : “baru tau”
Yesha : “yaudah sana daptar “
Kemudian aku menutup kembali ponselku setelah membaca pesan itu.
Aku memang suka stand up comedy selama di sekolah, namun karena kesibukan ku untuk persiapan kuliah, aku jadi tidak pernah stand up comedy lagi. Dan dengan adanya lomba ini aku sendiri tidak tahu, apakah aku akan memulai kembali karierku menjadi seorang stand up komedian, atau aku masih harus beristirahat dari dunia stand up comedy sampai aku masuk kuliah?
Ohiya, hampir saja aku lupa, sebenarnya semenjak pertemuan ku dengan Yesha di perpustakaan waktu itu, hubungan kami menjadi semakin dekat. Kami jadi sering berkomunikasi mengenai hal yang akan kami lakukan setelah resmi lulus SMA. Era pandemi memang membatasi kami untuk bertemu secara langsung, sehingga kami hanya bisa berkomunikasi via chat.
"kayaknya gua bakalan putus deh sama cewek gue” ujar Satria yang membuyarkan lamunanku.
“oh” jawabku singkat dan seolah tak peduli.
"kok Cuma ‘oh’? “ protes Satria.
"lo udah tiga kali pertemuan ngomong hal yang sama ke gue” balasku “putus kok banyak banget revisian nya, lo putus sama dosen pembimbing? “
Satria terlihat sedikit kesal mendengar balasan dariku. “tapi kali ini gue yakin bakalan putus sama dia"
Aku hanya diam, karena aku yakin, kurang dari dua puluh empat jam dia akan kembali baikan dengan pacarnya. Aku sudah hafal betul dengan tingkah laku anak itu.
“lagian kalo gue jadi putus sama cewek gue, gue udah nemu kok penggantinya “ kata Satria yang kembali bersuara, namun aku tidak menanggapinya “gue emang belum lama ini kenal sama dia di medsos, tapi gue nyaman banget ngobrol sama dia, dan empat hari lagi gue bakalan ketemu secara langsung sama di ‘moonbuck coffee’ “ Lanjutnya “dan cewek itu namanya Elvira"
Aku sedikit menggeleng ketika mendengarnya, kelakuan anak ini tidak pernah berubah, dia selalu saja tidak cukup pada satu wanita. Awalnya aku tidak mau peduli, namun setelah mengetahui nama dari calon pengganti pacarnya satria itu aku merasa ada yang mengganjal di hatiku. Elvira, itu nama mantan pacarku.
Kamis, 27 Mei 2021
Hari itu aku baru saja sampai di moonbuck coffee untuk mendaftarkan diri sebagai peserta lomba stand up comedy yang diadakan di cafe tersebut. Saat baru saja ingin memasuki cafe tersebut, aku tak sengaja berpapasan dengan Yesha yang baru saja keluar dari cafe tersebut.
“Hay! “ sapa Yesha saat melihatku.
Aku membalas sapaannya dengan senyuman tipis.
“kamu jadi ikut lomba stand up comedy? “
“jadi “ jawabku “ini mau daftar “
“semangat ya buat lombanya nanti “ ucapnya yang kubalas dengan mengangguk. “btw kamu kok nggak pake masker?"
Ya, saat itu aku memang lupa memakai masker karena buru-buru ke cafe itu. Aku datang dengan terburu-buru karena takut pendaftaran lombanya ditutup, mengingat ini adalah hari terakhir pendaftaran lombanya.
"lupa bawa “ jawabku singkat.
"kalo gak pake masker nanti kamu gak boleh masuk cafe nya loh” peringat Yesha. Dia terlihat seperti sedang mencari sesuatu di tas selempang nya, tak lama dia mengeluarkan masker kain berwarna kuning dengan motif polkadot dan sebuah hand sanitizer, lalu memberikannya padaku. “ini buat kamu"
Aku pun menerima kedua benda tersebut dengan senang hati “makasih “
“Sama-sama” balasannya “yaudah aku pulang dulu ya “
“kamu pulang naik apa?"
"jalan kaki “ jawabnya “rumahku deket sini kok”
“Mangkanya cari sopir pribadi yang bisa ngomong ‘sayang kamu udah mau pulang? Aku jemput ya', biar pulangnya gak jalan kaki “
“Ntar kalo sugar daddy aku pulang dinas di hutan” balasnya “udah ah, aku mau pulang “
Kemudian Yesha mulai melenggang pergi.
Aku terus memandangi kepergiannya sampai dia benar-benar menghilang dari jangkauan mataku. Setelah kepergiannya aku mulai mencaci diriku sendiri.
“bodoh aku ini, ngapain juga aku harus ngasih kode ke dia, padahal kalau aku mau mengantarnya pulang aku bisa bilang secara langsung “ ucapku dalam hati “tapi yang dia maksud sugar daddy itu siapa ya?"
Setelah itu aku berusaha berpikir positif, siapa tau saja Yesha Cuma asal bicara.
Kemudian aku mulai memasuki cafe itu setelah sempat tertunda karena kejadian tadi. Namun ternyata lomba stand up comedy itu batal diadakan karena pesertanya terlalu sedikit.
Minggu, 25 Juli 2021
Semakin hari, hubunganku dengan Yesha semakin dekat. Kami yang awalnya hanya dekat karena saling cerita mengenai rencana kami setelah lulus SMA kini menjadi lebih dari itu. Harus aku akui, perasaanku yang awalnya hanya sebatas teman, kini mulai berubah menjadi lebih dari itu. Aku merasa Yesha juga merasakan hal yang sama setelah kemarin dia membuat status di medsos berupa kata-kata “tidak tau sampai kapan, tapi kan kutunggu keberanianmu “ dengan inisial ‘W’ yang merupakan inisial nama ku. Memang orang yang inisial namanya ‘W' bukan hanya aku, tapi entah kenapa aku sangat yakin kalau status itu untukku. Mungkin benar kata orang, mustahil adanya hubungan persahabatan antara pria dan wanita tanpa melibatkan perasaan.
Malam itu aku mengajak Yesha ke pasar malam untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan selama bersamanya. Tidak ada yang aku persiapkan untuk malam itu, modal yang kubawa pun hanya nekat. Aku tidak tau pasti apa yang akan terjadi, tapi apapun itu aku harus menerimanya dengan lapang dada.
Sudah dua kali kami mengelilingi pasar malam itu, dan hampir setiap stan aku rekomendasikan, tapi setiap kali aku tanya dia mau makan apa, dia selalu menjawab ‘terserah’.
“kamu sebenernya mau jajan nggak sih? “ tanyaku yang sudah mulai lelah.
"nggak ah, aku mau puasa aja “ jawabnya.
Aku menghela napas kasar “kan ini udah lewat maghrib, lagian ini hari minggu “
Yesha tersenyum tipis ketika aku mengatakan itu “ya gapapa aku lanjutin aja puasanya biar aku cepet kurus"
Aku sedikit menggeleng ketika mendengarnya, padahal dia sudah kurus tapi dia mengatakan itu seolah dia memiliki berat badan berlebih.
“Gak usah puasa, tinggal depresi aja, ntar juga gak nafsu makan, terus kurus “ ucapku.
“Masalahnya kalo depresi nafsu makan nya jadi tinggi” balasnya.
“masa? “ tanyaku tak percaya “waketos kita depresi bb nya turun 5 kilo”
“Beda-beda, Kan aku mah kalo lagi depresi mau nya seblak” Jawabnya “Kecuali depresinya karena kekurangan duit, Ga ada duit gak makan”
"Kasihan kamu kalo nggak ada yang bayarin seblak “ balasku “Depresi nya doble tuh”
“Punya temen kaya kamu juga bikin depresi”
Mendengar ada kata 'temen', aku langsung mengatakan “Jadi kamu Cuma nganggep aku temen? Aku kira lebih “. Aku mengatakan itu dengan wajah yang kubuat seperti sedang bersedih, namun jawaban darinya sungguh di luar dugaan.
“Jadi kamu nganggep kita lebih? “ balasnya dengan balik bertanya “Yaudah ayo jadian”
Dengan ragu aku mengatakan “ayo”
"oke, mulai sekarang kita pacaran "
Seketika tubuhku mulai mematung. Ini di luar dugaanku, bagaimana bisa kita jadian dengan cara yang begitu mudah. Seharusnya ada kata-kata romantis yang aku katakan padanya seperti di film-film, bukannya dengan kata-kata sesimpel itu. Dan aku merasa ada satu hal yang aneh disini, cara kami jadian ini mirip seperti caraku saat aku jadian dengan Elvira yang sempat aku tulis di voltped.
Lupakan saja, mungkin itu hanya kebetulan. Yang jelas, malam itu aku sangat bahagia sampai membuatku susah tidur.
Senin, 27 Juli 2021
Malam itu Satria datang ke rumahku untuk mengajaku pergi ke pasar malam, pasar malam yang sama dengan pasar malam yang aku datangi bersama Yesha kemarin. Satria bilang ada sesuatu yang ingin dia ceritakan padaku, dan aku yakin apa yang ingin dia ceritakan itu tidak akan jauh dari masalahnya dengan pacarnya atau simpanannya.
Aku menyetujui tawarannya dengan syarat dia yang akan membayar semua yang aku beli dan aku harus boleh mengajak satu orang lagi. Satria menyetujui permintaanku begitu saja tanpa protes. Wajar saja, anak Sultan. Kami berdua pun berangkat malam itu.
Sebelum ke pasar malam, kami pergi ke rumah seseorang terlebih dahulu. Orang itu adalah orang yang akan ku ajak untuk pergi ke pasar malam bersama kami. Dan orang itu adalah Yesha.
Aku memanggil-manggil nama Yesha dari depan rumahnya. Sesekali aku melihat ekspresi wajah Satria yang terlihat aneh. “mungkin dia mulai menyesal telah menyetujui syarat dariku, sudah keluar duit, harus menyaksikan orang pacaran pake duitnya lagi” ucapku dalam hati.
Tak lama Yesha pun keluar dari rumahnya. “ada apa ya kalian datang malam-malam?"
Aku memang tidak memberitahu Yesha kalau aku akan datang ke rumahnya untuk mengajaknya ke pasar malam. “aku mau ngajak kamu ke pasar malam lagi “ jawabku.
“lagi? “ tanya Yesha yang terlihat kebingungan “emangnya kita pernah ke pasar malam bareng sebelumnya "
“nggak usah bercanda, jelas-jelas kemarin kita ke pasar malam bareng “ jawabku. Aku mengira dia sedang bercanda, nyatanya tidak.
“aku nggak ngerasa pernah jalan bareng sama kamu “
Dahiku mulai mengernyit “maksud kamu? “
“kita emang nggak pernah jalan bareng sebelumnya “
Aku diam untuk beberapa saat, aku melihat dengan jelas wajah dari Yesha yang benar-benar terlihat kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi.
“apa kamu juga lupa kalo kemarin kita jadian? “ tanyaku.
"jadian gimana maksud kamu? “ Yesha balik bertanya dengan bingung.
“kita kemarin jadian di pasar malam itu Yesha, apa kamu lupa?”
“kamu halu ya? “ tanya Yesha “aku gak pernah ada hubungan apapun sama kamu, kita Cuma temen biasa, nggak lebih "
“aku yang halu atau kamu yang nggak mau ngakuin hubungan kita? “ tanyaku “kalo kamu malu pacaran sama aku, harusnya kamu... “
“maaf, tapi aku nggak ngerti kamu ngomong apa” potong Yesha cepat. Kemudian Yesha langsung masuk ke dalam rumahnya begitu saja. Sekilas aku melihat ada yang mengintip kami dari balik jendela rumah Yesha.
Satria yang sedaritadi diam lalu membawaku pergi meninggalkan rumah Yesha. Dengan kejadian tersebut tentu kami tidak jadi ke pasar malam, dan Satria membawaku ke rumahnya. Sampai di rumahnya Satria pun aku masih tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Yesha tadi. Tapi aku lebih tidak habis pikir lagi dengan apa yang akan dikatakan oleh Satria berikut ini.
“lo itu kena skizofrenia “ kata Satria tiba-tiba saat di rumahnya.
“maksud lo gue gila? “ tanyaku merasa tak terima dengan pernyataan yang diberikan oleh Satria tadi"
“skizofrenia itu beda sama gila” balas Satria. “skizofrenia itu gangguan mental yang bisa memengaruhi tingkah laku, emosi, dan komunikasi”
“bilang aja lu mau ngatain gue gila”
“gue nggak bilang lo gila” pertegas Satria “lo Cuma nggak bisa bedain mana yang nyata dan mana yang halusinasi doang"
"gue nggak halu"
"apa buktinya "
Aku langsung mengambil ponselku untuk menunjukkan isi chat ku dengan Yesha pada Satria.
Setelah Satria melihat-lihat isi chat itu, dia kembali berkata “isi chat lo sama Yesha ini biasa-biasa aja, kalian Cuma ngomongin keinginan kalian setelah lulus SMA, nggak ada yang spesial “
“tapi kemaren gue jadian sama dia “ kataku memberikan pembelaan.
“tapi buktinya Yesha nggak pernah ngalamin apa yang lo omongin” balas Satria “karena apa yang lo rasain Cuma ada di hayalan lo doang “
Aku bungkam seketika, kepala ku mulai pusing, dan hati kecilku mulai bertanya “apa benar semua ini hanya halusinasi ku saja? “
Sepulang dari rumah Satria, Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur kamarku dengan posisi kedua telapak tangan yang tertumpuk di bawah kepala sebagai tumpuan. Hari sudah malam, suasana di sekitar sudah mulai sepi, tapi tidak dengan pikiranku. Ya, sama seperti remaja seusia ku pada umumnya, setiap malam aku selalu melakukan ritual wajib sebelum tidur, yaitu overthinking.
Selasa, 28 Juli 2021
Harusnya cerita ini sudah selesai, kalian sudah menyaksikan ending yang tak bahagia bukan. Nyatanya belum, karena masih ada yang harus aku ceritakan.
Aku terbangun diantara sepi, namun dengan pikiran yang ramai. Aku melihat jam wacker berbentuk gitar berwarna merah milikku yang menunjukkan pukul 10:39 WIB. Telat bangun karena begadang lagi, gumamku dalam hati.
Semalaman yang ada di kepalaku hanya kisahku bersama Yesha yang indah, kisah yang ingin terus kujalani. Namun, sekarang aku mulai menyadari kalau semuanya hanya mimpi, dan hayalan ku untuk hidup bersamanya.
Aku mulai bangkit dari tempat tidurku untuk pergi ke kamar mandi. Ibuku pasti marah kalau tau aku bangun telat lagi. Aku mulai membuka bajuku, dan saat aku hendak melepas celana, aku baru sadar kalau semalaman dompetku masih ada di saku celana. Aku mengambil dompetku dan hendak menyimpannya di laci meja belajarku. Saat aku baru saja membuka laci meja belajarku, mataku langsung disambut dengan penampakan dua buah benda yang tidak aberwarna kuning dengan motif polkadot dan sebuah hand sanitizer. Aku mengernyit, jika apa yang sing bagiku, yaitu masker kain berwarna kuning dengan motif polkadot dan sebuah hand sanitizer. Aku mengernyit, jika apa yang aku alami itu hanya halusinasi, maka dua benda itu tidak mungkin ada.
Aku langsung mengambil ponselku, berusaha mencari informasi mengenai skizofrenia di internet. Kenapa aku jadi bodoh begini, bisa percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Satria, padahal Satria bukan ahli di bidang ini.
Artikel demi artikel aku baca, hingga aku menemukan artikel yang mengatakan kalau ‘pengidap skizofrenia biasanya ada pada usia dewasa, sekitar dua puluh tahun, kecil kemungkinan pengidap skizofrenia adalah seorang remaja’. Pernyataan itu memberikanku keyakinan kalau aku memang tidak mengidap skizofrenia.
Aku kembali mencari fakta-fakta mengenai apa yang baru saja aku alami. Dari artikel-artikel yang aku baca, aku mulai menemukan beberapa fakta. Pertama, apa yang aku alami ini lebih condong ke Erotomania bukan skizofrenia. Erotomania adalah gangguan yang membuat seseorang percaya atau sangat yakin bahwa ada orang yang sedang jatuh cinta kepadanya. Padahal, hal tersebut tidak benar. Sedangkan Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan dalam berpikir, dan perubahan sikap. Umumnya pengidap skizofrenia mengalami gejala psikosis, yaitu kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikiran pada diri sendiri. Aku berpendapat demikian karena aku yakin apa yang aku alami itu nyata, bukan halusinasi. Tapi mungkin memang aku menyimpulkan sendiri kalau Yesha mencintaiku, padahal nyatanya tidak.
Sedangkan untuk Satria, aku berpendapat kalau Satria itu mengidap Pathological liar. Pathological liar adalah seseorang yang berbohong secara kompulsif dan tanpa manfaat yang jelas. Aku berpendapat seperti ini karena Satria memang sering berbohong tanpa alasan yang jelas. Contohnya adalah ketika dia mengatakan kalau mbak Diana menyukainya, padahal dia baru melihat mbak Diana pada saat itu. Jadi bisa saja Satria memang membohongi ku tanpa alasan yang jelas kemarin.
Namun tetap saja, masih ada hal yang belum bisa aku pecahkan, yaitu; kenapa Yesha mengatakan kalau dia tidak pernah jalan bersamaku ke pasar malam waktu itu?. Aku harus mencari tahunya.
Setelahnya aku langsung bersiap-siap untuk pergi menemui Yesha. Namun saat aku sudah sampai di rumah Yesha, ternyata dia tidak ada di sana, hanya ada kakaknya Yesha yang bernama Indhira. Kak Indhira memintaku untuk masuk ke rumahnya, karena ada yang ingin dia sampaikan.
“jadi Yesha dimana kak? “ tanyaku saat sudah duduk di ruang tamu.
“hari ini jadwalnya Yesha menemui psikiater nya “ jawab kak Indhira.
Aku mengernyit “psikiater? “ tanyaku penuh keheranan.
“Yesha mengalami disosiatif identity disorder “
“kepribadian ganda? “ tanyaku memastikan. Kak Indhira mengangguk sebagai jawaban. “kok bisa?"
"mamah papah mendidik Yesha dengan sangat keras, Yesha dituntut untuk menjadi anak yang sempurna” jawab kak Indhira dengan mata yang berkaca-kaca. “dan mamah papah selalu menjadikan aku sebagai contoh untuknya”
“lalu sejak kapan Yesha memiliki alter ego? “
"sejak dia dinyatakan tidak lolos SNMPTN, hal itu yang membuat dia berada di titik terendah dalam hidupnya” Jawab kak Indhira “disaat itulah alter ego dari Yesha muncul “
Aku terdiam untuk beberapa saat, aku tidak pernah menyangka orang seperti Yesha akan mengalami hal seperti ini.
"maaf kak, kalo boleh tau seperti apa sosok alter ego dari Yesha itu? “ tanyaku lagi.
“alter ego Yesha itu sama seperti karakter dalam cerita voltped yang sering ia baca. Bahkan alter ego Yesha juga mengambil nama karakter itu untuk namanya “ jelas Kak Indhira. “karakter itu bernama Elvira "
Mataku langsung membulat sempurna ketika mendengarnya, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
“jadi yang selama ini bersamaku... “ ucapku pelan namun masih dapat didengar oleh kak Indhira.
“itu Elvira “ potong kak Indhira. “dan Elvira juga menganggap kamu sebagai sosok pria yang ada di cerita voltped itu “ lanjutnya “Elvira juga menganggap kalau orang datang bersama kamu semalam adalah teman dari sosok pria yang ada di cerita itu, jadi Elvira mendekatinya untuk bertanya tentang kamu"
Tubuhku mematung seketika, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi selama ini aku berinteraksi dengan alter ego dari Yesha, yaitu Elvira, dimana Elvira adalah mantan pacarku yang kisahnya aku tulis dalam voltped. Ternyata selama ini sosok alter ego dari Yesha hanya menjalankan apa yang aku tuliskan dalam voltped. Pantas saja cara aku jadian dengannya mirip seperti cara jadian ku dengan Elvira.
Aku tidak tahu harus apa sekarang. Aku telah buta, aku tidak bisa lagi melihat warna-warni dunia, bahkan aku tidak bisa membedakan mana yang hitam dan mana yang putih, semuanya terlihat abu-abu. Ternyata ini semua memang halusinasi, dia obyek yang nyata, namun ternyata cuma fatamorgana.

Komentar
Posting Komentar